Pembelajaran
Berbasis Kemampuan Otak
A.
Definisi
Terdapat
tiga pokok pembahasan dalam definisi pendidikan berbasis otak yaitu strategi,
keterlibatan, dan prinsip. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa pendidikan
berbasis otak adalah keterlibatan strategi yang didasarkan pada prinsip-prinsip
yang berasal dari satu pemahaman tentang otak. Pendidikan berbasis otak juga
merupakan cara berfikir tentang pembelajaran. Pembelajaran ini membantu manusia
untuk mempertimbangkan sifat dari otak untuk pengambilan keputusan.
B.
Tahap-Tahap.
Terdapat
tujuh tahap garis besar perencanaan berbasis kemampuan otak antara lain :
a.
Tahap
1: Pra-Pemaparan
Fase ini memberikan
sebuah ulasan kepada otak tentang pembelajaran baru sebelum benar-benar
menggali lebih jauh. Pra-pemaparan membantu otak membangun peta konseptual yang
lebih baik.
1. Pajanglah
ulasan tentang topik baru pada papan penggumuman: pemetaan pikiran sangat baik
untuk melakukan ini.
2. Ajarilah
keterampilan belajar strategi-strategi memori
3. Doronglah
nutrisi otak yang baik, termasuk menyediakan air minum yang cukup banyak.
4. Model
peran dan latihan penanganan, penghargaan diri, dan ketrampilan-keterampilan
kehidupan.
5. Pertimbangkanlah
siklus dan ritme waktu dalam sehari ketika merencanakan kegiatan-kegiatan.
6. Temukanlah
ketertarikan dan latar belakang siswa: mulailah dari tempat dimana mereka
berada, pada dasar pengetahuan mereka, bukan dari tempat mereka yang hanya
dugaan anda.
7. Buatlah
pembelajar menetapkan sasaran mereka sendiri dan diskusikan sasaran untuk
setiap unit.
8. Pajanglah
berbagai sarana pendukung yang penuh warna, termasuk bentuk-bentuk penegasan
yang positif.
9. Rencanakanlah
strategi “membangunkan” otak (misahnya gerakan lintas anggota badan atau
peregangan relaksasi) pada setiap jam.
10. Rencanakanlah
kegiatan dimana para siswa dapat bergerak disetiap ruang kelas dan memilih
kegiatan dari menu yang ditawarkan.
11. Kondisikanlah
ekspetasi yang positif dan biarkan siswa menyuarakan pikiran mereka juga.
12. Bangunlah
hubungan positif yang kuat dengan para pembelajar.
13. Bacalah
kondisi pembelajaran dan buatlah penyesuaian sembari anda melajutkan pelajaran
b.
Tahap
2: Persiapan
hal ini merupakan fase
dalam menciptakan keingintahuan atau kesenangan
1. Ciptakan
pengalaman “kamu ada disana” berikan para pembelajar dunia nyata.
2. Berikan
konteks dari topik yang dipelajari.
3. Bangkitkanlah
dari diri para pembelajar nilai dan relevansi pribadi yang memungkinkan dari
topik tersebut.
4. Lakukanlah
eksperimen, buatlah kunjungan lapangan, atau undanglah pembicara tamu yang
terlibat secara profesional dengan topik tersebut.
5. Berikanlah
pengait, kejutan, atau hal-hal baru untuk melibatkan emosi pembelajar.
c.
Tahap
3 : Inisiasi dan Akusisi
Tahap ini memberikan
pembenaman dan dibanjiri dengan muatan pembelajaran.
1. Berikanlah
pengalaman pembelajaran yang nyata (eksperimen, kunjungan lapangan, wawancara,
pembelajaran langsung).
2. Ciptakanlah
kegiatan-kegiatan yang menggunakan mayoritas (jika bukan semuanya) dari
inteligensia berganda.
3. Berikanlah
proyek kelompok yang meliputi pembangunan, penemuan, eksplorasi, atau
perancangan.
4. Kunjungilah
bioskop,buatlah parodi, buatlah iklan, atau ciptakan surat kabar kelas.
5. Berikanlah
pilihan yang cukup banyak supaya para pembelajar punya kesempatan
mengeksplorasi subjek.
d.
Tahap
4 : Elaborasi
Tahap ini merupakan
pemrosesan untuk membuat kesan intelektual tentang pembelajara.
1. Berikanlah
tanya jawab terbuka tentang kegiatan sebelumnya.
2. Ikatlah
segala sesuatunya menjadi satu supaya dapat memunculkan pembelajaran lintas
disiplin (misalnya : membaca cerita fiksi ilmiah tentang luar angkasa ketika
sedang mempelajari sistem tata surya. Diskusikanlah bagaimana sastra
berhubungan dengan sains).
3. Buatlah
agar para siswa merancang modus evaluasi atau rubrik untuk pembelajaran mereka
sendiri.
4. Buatlah
agar para siswa mengeksplorasi topik tersebut melalui internet atau
perpustakaan.
5. Tontonlah
video, slide, atau melihat pertunjukkan teater tentang topik ini.
6. Stimulasikanlah
diskusi kelompok kecil : bagikan kembali laporan kelompok kepada seluruh kelas.
7. Ciptakanlah
pemetaan pikiran individu atau kelompok untuk merenungkan materi baru.
8. Adakanlah
forum sekolah, debat, kontes essai, atau diskusi panel.
9. Adakanlah
periode tanya jawab.
10. Buatlah
agar para siswa melakukan pengajaran.
e.
Tahap
5 : Inkubasi dan Memasukkan Memori
Fase ini menekankan
pentingnya waktu istirahat dan waktu untuk mengulang kembali. Otak belajar
paling efektif dari waktu kewaktu,bukan langsung pada suatu saat.
1. Sediakanlah
waktu untuk perenungan tanpa bimbingan-waktu istirahat.
2. Buatlah
agar para pembelajar menyimpan jurnal pembelajaran.
3. Biarkan
para siswa berjalan berpasangan dan mendiskusikan topik tersebut.
4. Lakukanlah
peregangan dan latihan relaksasi.
5. Sediakanlah
area untuk mendengarkan musik.
6. Mintalah
para pembelajar untuk mendiskusikan pembelajaran baru dengan keluarga dan teman
mereka.
f.
Tahap
6 : Verifikasi dan Pengecekan Keyakinan
Fase ini bukan hanya
untuk kepentingan guru,para pembelajar juga perlu mengonfirmasikan pembelajaran
mereka untuk diri mereka sendiri.
1. Buatlah
agar para pembelajar menyampaikan apa yang mereka pelajari kepada orang lain.
2. Para
siswa saling bertanya dan mengevaluasi satu sama lain.
3. Para
siswa menulis tentang apa yang sudah mereka pelajari.
4. Para
siswa mendomonstrasikan pembelajaran dengan subuah proyek (model kerja,video,dll)
5. Para
siswa menampilkan sebuah permainan peran,parodi,atau pertunjukan teaterkal.
6. Kuis
(verbal/tertulis)
g.
Tahap
7 : Perayaan dan Integrasi
Dalam fase perayaan
sangat penting untuk melibatkan emosi. Buatlah fase ini mengasikan,ceria dan menyenangkan.
Tahap ini menanamkan semua arti penting dari kecintaan terhadap belajar..
1. Lakukanlah
bersulang kelas (dengan sirup)
2. Sediakanlah
waktu berbagi
3. Putar
musik,gantunglah pita-pita,dan tiup terompet.
4. Undanglah
siswa kelas lain,orangtua,kepala sekolah atau tamu dari komunitas masuk ke
kelas untuk melihat perayaan.
5. Fasilitasi
sebuah rancangan kelas dan buatlah pesta perayaan.
6. Sertakan
pembelajaran baru untuk pembelajar berikutnya. Jangan pernah memperkenalkan
sesuatu,kemudian menghentikannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Jensen, Eric.
2011. Pembelajaran Berbasis Otak.
Jakarta Barat : PT.Indeks.
Jensen, Eric.
2007. Brain-Based Learning. Yogyakarta
: Pustaka Pelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar