Selasa, 07 Mei 2019

Brain Based Learing


Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak

A.    Definisi
Terdapat tiga pokok pembahasan dalam definisi pendidikan berbasis otak yaitu strategi, keterlibatan, dan prinsip. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa pendidikan berbasis otak adalah keterlibatan strategi yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang berasal dari satu pemahaman tentang otak. Pendidikan berbasis otak juga merupakan cara berfikir tentang pembelajaran. Pembelajaran ini membantu manusia untuk mempertimbangkan sifat dari otak untuk pengambilan keputusan.
B.     Tahap-Tahap.
Terdapat tujuh tahap garis besar perencanaan berbasis kemampuan otak antara lain :
a.      Tahap 1: Pra-Pemaparan
Fase ini memberikan sebuah ulasan kepada otak tentang pembelajaran baru sebelum benar-benar menggali lebih jauh. Pra-pemaparan membantu otak membangun peta konseptual yang lebih baik.
1.      Pajanglah ulasan tentang topik baru pada papan penggumuman: pemetaan pikiran sangat baik untuk melakukan ini.
2.      Ajarilah keterampilan belajar strategi-strategi memori
3.      Doronglah nutrisi otak yang baik, termasuk menyediakan air minum yang cukup banyak.
4.      Model peran dan latihan penanganan, penghargaan diri, dan ketrampilan-keterampilan kehidupan.
5.      Pertimbangkanlah siklus dan ritme waktu dalam sehari ketika merencanakan kegiatan-kegiatan.
6.      Temukanlah ketertarikan dan latar belakang siswa: mulailah dari tempat dimana mereka berada, pada dasar pengetahuan mereka, bukan dari tempat mereka yang hanya dugaan anda.
7.      Buatlah pembelajar menetapkan sasaran mereka sendiri dan diskusikan sasaran untuk setiap unit.
8.      Pajanglah berbagai sarana pendukung yang penuh warna, termasuk bentuk-bentuk penegasan yang positif.
9.      Rencanakanlah strategi “membangunkan” otak (misahnya gerakan lintas anggota badan atau peregangan relaksasi) pada setiap jam.
10.  Rencanakanlah kegiatan dimana para siswa dapat bergerak disetiap ruang kelas dan memilih kegiatan dari menu yang ditawarkan.
11.  Kondisikanlah ekspetasi yang positif dan biarkan siswa menyuarakan pikiran mereka juga.
12.  Bangunlah hubungan positif yang kuat dengan para pembelajar.
13.  Bacalah kondisi pembelajaran dan buatlah penyesuaian sembari anda melajutkan pelajaran

b.      Tahap 2: Persiapan
hal ini merupakan fase dalam menciptakan keingintahuan atau kesenangan
1.      Ciptakan pengalaman “kamu ada disana” berikan para pembelajar dunia nyata.
2.      Berikan konteks dari topik yang dipelajari.
3.      Bangkitkanlah dari diri para pembelajar nilai dan relevansi pribadi yang memungkinkan dari topik tersebut.
4.      Lakukanlah eksperimen, buatlah kunjungan lapangan, atau undanglah pembicara tamu yang terlibat secara profesional dengan topik tersebut.
5.      Berikanlah pengait, kejutan, atau hal-hal baru untuk melibatkan emosi pembelajar.

c.       Tahap 3 : Inisiasi dan Akusisi
Tahap ini memberikan pembenaman dan dibanjiri dengan muatan pembelajaran.
1.      Berikanlah pengalaman pembelajaran yang nyata (eksperimen, kunjungan lapangan, wawancara, pembelajaran langsung).
2.      Ciptakanlah kegiatan-kegiatan yang menggunakan mayoritas (jika bukan semuanya) dari inteligensia berganda.
3.      Berikanlah proyek kelompok yang meliputi pembangunan, penemuan, eksplorasi, atau perancangan.
4.      Kunjungilah bioskop,buatlah parodi, buatlah iklan, atau ciptakan surat kabar kelas.
5.      Berikanlah pilihan yang cukup banyak supaya para pembelajar punya kesempatan mengeksplorasi subjek.

d.      Tahap 4 : Elaborasi
Tahap ini merupakan pemrosesan untuk membuat kesan intelektual tentang pembelajara.
1.      Berikanlah tanya jawab terbuka tentang kegiatan sebelumnya.
2.      Ikatlah segala sesuatunya menjadi satu supaya dapat memunculkan pembelajaran lintas disiplin (misalnya : membaca cerita fiksi ilmiah tentang luar angkasa ketika sedang mempelajari sistem tata surya. Diskusikanlah bagaimana sastra berhubungan dengan sains).
3.      Buatlah agar para siswa merancang modus evaluasi atau rubrik untuk pembelajaran mereka sendiri.
4.      Buatlah agar para siswa mengeksplorasi topik tersebut melalui internet atau perpustakaan.
5.      Tontonlah video, slide, atau melihat pertunjukkan teater tentang topik ini.
6.      Stimulasikanlah diskusi kelompok kecil : bagikan kembali laporan kelompok kepada seluruh kelas.
7.      Ciptakanlah pemetaan pikiran individu atau kelompok untuk merenungkan materi baru.
8.      Adakanlah forum sekolah, debat, kontes essai, atau diskusi panel.
9.      Adakanlah periode tanya jawab.
10.  Buatlah agar para siswa melakukan pengajaran.

e.       Tahap 5 : Inkubasi dan Memasukkan Memori
Fase ini menekankan pentingnya waktu istirahat dan waktu untuk mengulang kembali. Otak belajar paling efektif dari waktu kewaktu,bukan langsung pada suatu saat.
1.      Sediakanlah waktu untuk perenungan tanpa bimbingan-waktu istirahat.
2.      Buatlah agar para pembelajar menyimpan jurnal pembelajaran.
3.      Biarkan para siswa berjalan berpasangan dan mendiskusikan topik tersebut.
4.      Lakukanlah peregangan dan latihan relaksasi.
5.      Sediakanlah area untuk mendengarkan musik.
6.      Mintalah para pembelajar untuk mendiskusikan pembelajaran baru dengan keluarga dan teman mereka.

f.       Tahap 6 : Verifikasi dan Pengecekan Keyakinan
Fase ini bukan hanya untuk kepentingan guru,para pembelajar juga perlu mengonfirmasikan pembelajaran mereka untuk diri mereka sendiri.
1.      Buatlah agar para pembelajar menyampaikan apa yang mereka pelajari kepada orang lain.
2.      Para siswa saling bertanya dan mengevaluasi satu sama lain.
3.      Para siswa menulis tentang apa yang sudah mereka pelajari.
4.      Para siswa mendomonstrasikan pembelajaran dengan subuah proyek (model kerja,video,dll)
5.      Para siswa menampilkan sebuah permainan peran,parodi,atau pertunjukan teaterkal.
6.      Kuis (verbal/tertulis)

g.      Tahap 7 : Perayaan dan Integrasi
Dalam fase perayaan sangat penting untuk melibatkan emosi. Buatlah fase ini mengasikan,ceria dan menyenangkan. Tahap ini menanamkan semua arti penting dari kecintaan terhadap belajar..
1.      Lakukanlah bersulang kelas (dengan sirup)
2.      Sediakanlah waktu berbagi
3.      Putar musik,gantunglah pita-pita,dan tiup terompet.
4.      Undanglah siswa kelas lain,orangtua,kepala sekolah atau tamu dari komunitas masuk ke kelas untuk melihat perayaan.
5.      Fasilitasi sebuah rancangan kelas dan buatlah pesta perayaan.
6.      Sertakan pembelajaran baru untuk pembelajar berikutnya. Jangan pernah memperkenalkan sesuatu,kemudian menghentikannya.







DAFTAR PUSTAKA
Jensen, Eric. 2011. Pembelajaran Berbasis Otak. Jakarta Barat : PT.Indeks.
Jensen, Eric. 2007. Brain-Based Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar