Rabu, 15 Mei 2019

Model Pembelajaran Matematika SD TEORI VAN HIELE


A. SEJARAH
Teori van Hiele yang dikembangkan oleh Pierre Marie van Hiele dan Dina van Hiele-Geldof sekitar tahun 1950-an telah diakui secara internasional (Martin dkk., 1999) dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pembelajaran geometri sekolah. Uni Soviet dan Amerika Serikat adalah contoh negara yang telah mengubah kurikulum geometri berdasar pada teori van Hiele (Anne, 1999). Pada tahun 1960-an, Uni Soviet telah melakukan perubahan kurikulum karena pengaruh teori van Hiele
(Crowley, 1987:1 dan Anne, 1999).
Beberapa penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa penerapan teori van Hiele memberikan dampak yang positif dalam pembelajaran geometri. Bobango (1993:157) menyatakan bahwa pembelajaran yang menekankan pada tahap belajar Van Hiele dapat membantu perencanaan pembelajaran dan memberikan hasil yang memuaskan. Senk (1989:318) menyatakan bahwa prestasi siswa SMU dalam menulis pembuktian geometri berkaitan secara positif dengan teori van Hiele. Mayberry (1983:67) berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa konsekuensi teori van Hiele adalah konsisten. Burger dan Shaughnessy (1986:47) melaporkan bahwa siswa menunjukkan tingkah laku yang konsisten dalam tingkat berpikir geometri sesuai dengan tingkatan berpikir van Hiele.

B. Prinsip
1.      Menurut Van Hiele, terdapat tiga unsur utama dalam pengajaran khususnya geometri, yaitu:  waktu, meteri pengajaran, dan metode pengajaran. Apabila ketiga unsur itu dikelola dengan baik, maka peningkatan kemampuan berpikir anak lebih tinggi.
2.      Bila dua orang mempunyai tahap berpikir yang berlainan, kemudian mereka bertukar pikiran, maka keduanya tidak akan saling mengerti.
3.      Kegiatan belajar siswa harus disesuaikan dengan tahap berpikir siswa.
4.      Menurut van Hiele, pengurutan topik-topik geometri harus disesuaikan dengan tingkat kesukarannya.

C. Karakteristik

  1. Tingkatan tersebut bersifat rangkaian yang berurutan.
  2. Tiap tingkatan memiliki simbol dan bhasa tersendiri.
  3. Apa yang implisit pada satu tingkatan akan menjadi eksplisit pada tingkatan selanjutnya.
  4. Bahan yang diajarkan pada siswa diatas tingkatan pemikiran mereka akan dianggap sebagai reduks tibgkatan.
  5.  Kemajuan dari satu tingkatan ke tingkatan yang berikutnya lebih tergantung pada pengalaman pembelajaran, bukan pada kematangan usia.
  6. Seseorang melangkah melalui berbagai tahapan dalam melalui satu tingkatan ke tingkatan berikutnya.
  7. Pembelajar tidak dapat memiliki pemahaman pada satu tingkatan tanpa melalui tingkata sebelumnya.
  8. Peranan guru dan peranan bahasa dalam konstruksi pengetahuan siswa sebagai suatu yang krusial.

D. Sintaks
1. Tahap Pengenalan
Pada tahap ini siswa hanya baru mengenal bangun-bangun geometri seperti bola, kubus, segitiga, persegi dan bangun-bangun geometri lainnya. Seandainya kita hadapkan dengan sejumlah bangun-bangun geornetri, anak dapat memilih dan menunjukkan bentuk segitiga. Pada tahap pengenalan anak belum dapat menyebutkan sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya itu. Sehingga bila kita ajukan pertanyaan seperti "apakah pada sebuah persegipanjang, sisi-sisi yang berhadapan panjangnya sama?", "apakah pada suatu persegipanjang kedua diagonalnya sama panjang?". Untuk hal ini, siswa tidak akan bisa menjawabnya. Guru harus memahami betul karakter anak pada
tahap pengenalan, jangan sampai, anak diajarkan sifat-sifat bangun-bangun geometri tersebut, karena anak akan menerimanya melalui hafalan bukan dengan pengertian.
2. Tahap Analisis
Bila pada tahap pengenalan anak belum mengenal sifat-sifat dari bangunbangun geometri, tidak demikian pada tahap Analisis. Pada tahap ini anak sudah dapat memahami sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. Pada tahap ini anak sudah mengenal sifat-sifat bangun geometri, seperti pada sebuah kubus banyak sisinya ada 6 buah, sedangkan banyak rusuknya ada 12. Seandainya kita tanyakan apakah kubus itu balok?, maka anak pada tahap ini belum bisa menjawab pertanyaan tersebut karena anak pada tahap ini belum memahami hubungan antara balok dan kubus. Anak pada tahap analisis belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya.
3. Tahap Pengurutan
Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap geometri lebih meningkat lagi dari sebelumnya yang hanya mengenal bangun-bangun geometri beserta sifatsifatnya, maka pada tahap ini anak sudah mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. Anak yang berada pada tahap ini sudah memahami pengurutan bangun-bangun geometri. Misalnya, siswa sudah mengetahui jajargenjang itu trapesium, belah ketupat adalah layang-layang, kubus itu adalah balok. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu untuk melakukan penarikan kesimpulan secara deduktif, tetapi masih pada tahap awal artinya belum berkembang baik. Karena masih pada tahap awal siswa masih belum mampu memberikan alasan yang rinci ketika ditanya mengapa kedua diagonal persegi panjang itu sama, mengapa kedua diagonal pada persegi saling tegak lurus.
4. Tahap Deduksi
Pada tahap ini anak sudah dapat memahami deduksi, yaitu mengambil kesimpulan secara deduktif. Pengambilan kesimpulan secara deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus. Seperti kita ketahui bahwa matematika adalah ilmu deduktif. Matematika, dikatakan sebagai ilmu deduktif karena pengambilan kesimpulan, membuktikan teorema dan lain-lain dilakukan dengan cara deduktif. Sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajargenjang adalah 360o secara deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran. Pembuktian secara induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang, kemudian setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau 360° belum tuntas dan belum tentu tepat. Seperti diketahui bahwa pengukuran itu pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya. Jadi, mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut-sudut jajargenjang tersebut. Untuk itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada matematika.  Pengembangan Pembelajaran Matematika SD 4 Anak pada tahap ini telah mengerti pentingnya peranan unsur-unsur yang
tidak didefinisikan, di samping unsur-unsur yang didefinisikan, aksioma atau problem, dan teorema. Anak pada tahap ini belum memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. Oleh karena itu, anak pada tahap ini belum dapat menjawab pertanyaan “mengapa sesuatu itu disajikan teorema atau dalil.”
5. Tahap Keakuratan
Tahap terakhir dari perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri adalah tahap keakuratan. Pada tahap ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Anak pada tahap ini sudah memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil. Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu sistem deduktif. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami geometri. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Oleh karena itu, jarang atau hanya sedikit sekali anak yang sampai pada tahap berpikir ini sekalipun anak tersebut sudah berada di tingkat SMA. Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam memahami geometri, Van Hiele juga mengemukakan beberapa teori berkaitan dengan pembelajaran geometri. Teori yang dikemukakanVan Hiele antara lain adalah sebagai berikut:
      Tiga unsur yang utama pembelajaran geometri yaitu waktu, materi pembelajaran dan metode penyusun yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya. Bila dua orang yang mempunyai tahap berpikir berlainan satu sama lain, kemudian saling bertukar pikiran maka kedua orang tersebut tidak akan mengerti.
Sebagai contoh, seorang anak tidak mengerti mengapa gurunya membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah jajargenjang adalah 360, misalnya anak itu berada pada tahap pengurutan ke bawah. Menurut anak pada tahap yang disebutkan, pembuktiannya tidak perlu sebab sudah jelas bahwa jumlah sudut-sudutnya adalah 360°.
   Teori belajar Van Hiele menguraikan tahap-tahap pemahaman geometri dan fase-fase pembelajaran geometri. Van hiele (dalam Pitadjeng, 2015: 55) dan aisyah (2007: 4-10) menyatakan bahwa terdapat 5 tahapan anak didik dalam belajar geometri yaitu: 1) tahap pengenalan; 2) tahap analisis; 3) tahap pengurutan; 4) tahap deduksi; dan 5) tahap akurasi. Van hiele (dalam Pitadjeng, 2015: 55-59) menjelaskan tahapan tersebut sebagai berikut:

1. Tahap Pengenalan
Dalam tahap ini anak didik mulai belajar mengenal suatu bentuk geometri secara keseluruhan, namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya itu.

2. Tahap Analisis
Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki benda geometri yang diamati. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada benda geometri tersebut. Dalam tahap ini anak didik belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya.

3. Tahap Pengurutan
Pada tahap ini anak didik mulai mampu melakukan penarikan kesimpulan,
yang kita kenal dengan sebutan berpikir deduktif. Namun kemampuan ini belum berkembang secara penuh. Satu hal yang perlu diketahui pada tahap ini anak sudah mampu mengurutkan. 

4. Tahap Deduksi
Dalam tahap ini anak didik sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yakni penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus. Demikian pula ia telah mengerti betapa pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan disamping unsur-unsur yang didefinisikan.

5. Tahap Akurasi
Dalam tahap ini anak didik sudah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Tahap akurasi merupakan tahap berpikir yang tinggi, rumit, dan kompleks. Oleh karena itu tidak mengherankan jika ada anak yang masih belum sampai pada tahap ini, meskipun sudah duduk di bangku sekolah lanjutan atas atau perguruan tinggi.
Van Hiele (dalam Aisyah, 2007: 4-10) mengatakan bahwa terdapat 5 fase
dalam pembelajaran geometri, yaitu sebagai berikut.

1. Fase Informasi
Pada awal tingkat ini, guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan
tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir siswa. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) guru mempelajari pengalaman awal yang dimiliki siswa tentang topik yang dibahas; (2) guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil.

2. Fase Orientasi
Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang telah disiapkan guru.

3. Fase 3: Penjelasan
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Di samping itu, untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat, guru memberi bantuan sesedikit mungkin. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir mulai tampak nyata.

4. Fase 4: Orientasi Bebas
Siswa menghadapi tugas-tugas yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah, tugas yang dilengkapi dengan banyak cara, dan tugas yang open-ended.
5. Fase 5: Integrasi
Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Guru dapat membantu siswa dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa yang telah dipelajari.

E. Sumber
https://www.researchgate.net/publication/304205649_PEMBELAJARAN_GEOMETRI_SESUAI_TEORI_VAN_HIELE

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA


                            PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

Pancasila  sebagai  Ideologi  Terbuka. Mengapa ? Karena  Pancasila  sebagai suatu  ideologi  tidak bersifat kaku dan tertutup, namun bersifat terbuka. Hal ini  dimaksudkan bahwa ideologi Pancasila adalah bersifat  aktual , dinamis,  antisipatif,  dan senantiasa  mampu  menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan ,  dan teknologi serta dinamika  perkembangan  masyarakat. Keterbukaan  ideologi Pancasila bukan  berarti  mengubah nilai – nilai dasar yang terkandung  di dalamnya, namun mengeksplisitkan wawasannya  secara  lebih kongkrit, sehingga memiliki kemampuan yang lebih tajam  untuk  memecahkan masalah – masalah baru dan aktual  yang senantiasa  berkembang  seiring  dengan  tuntutan zaman.
( Kaelan, 1998 : 64 )
Dalam ideologi terbuka terdapat nilai- nilai yang  mendasar yang bersifat  tetap dan  tidak berubah. Oleh karena itu  Bangsa Indonesia mengakui bahwa Pancasila sebagai ideologi terbuka mengandung tiga hal fleksibilitas yaitu nilai dasar, nilai instrument, dan nilai praktis, adapun ketiga nilai tersebut sebagai berikut:

  1. Nilai dasar
Nilai dasar adalah asas-asas yang diterima sebagi dalil mutlak. Nilai dasar yang bersumber dari nilai-nilai budaya dan masyarakat Indonsia sendiri, yaitu bersumber dari kebudayaan bangsa yang sesuai dengan konstitusi UUD 1945 yang mencerminkan hakikat nilai kultural (budaya). Hal tersebut terdapat dalam pembukaan UUD1945. Wujud nyata dari nilai dasar adalah sila 1 sampai sila 5 yang terdapat dalam Pancasila. Ini  merupakan essensi dari  sila – sila Pancasila  yang sifatnya universal.
  1. Nilai Instrumen
Nilai instrumen  yang merupakan arahan , kebijakan,  strategi, sasaran serta  lembaga  pelaksanaan. Pada umumnya pelaksanaan tersebut dalam wujud norma sosial atau norma hukum untuk selanjutnya terkristalisasi dalam lembaga-lembag yang sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu. Nilai instrumen ini kedudukannya lebih rendah dari nilai dasar, tetapi dapat terwujudkan nilai umum menjadi nilai konkret, serta sesuai perkembangan zaman. Hal tersebut tertuang dalam batang tubuh UUD 1945, ketetapan MPR, Peraturan Perundang-undangan (PP), dan Kepres (Keputusan Presiden).

  1. Nilai Praktis
Nilai praktis adalah nilai yang sebenarnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai inilah yang sesungguhnya bahan ujian. Apakah nilai dasar dan nilai instrumen dan benar-benar hidup dalam masyarakat atau tidak. Dalam hal ini nilai praktis seperti menghormati, kerukunan, dan gotong-royong dapat diwujudkan dalam bentuk sikap, perbuatan, dan tingkah laku sehari-hari.
Oleh karena itu Pancasil sebagai  suatu ideologi yang bersifat terbuka memiliki tiga dimensi yaitu :
  1. Dimensi  Idealistis yaitu nilai- nilai yang terkandung dalam pancasila  yang bersifat  sistematis,rasional,  dan menyeluruh, yaitu KeTuhanan,  kemanusiaan ,  persatuan, kerakyatan dan keadilan.
  2. Dimensi Normatif  niali- nilai yang terkandung dalam pancasila yang perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma, sebagaimana terkandung dalam norma kenegaraan. Pancasila terkandung dalam  Pembukaan UUD 1945 yang   merupakan norma tertib hukum tertinggi dalam negara.
  3. Dimensi Relistis  : suatu ideologi yang mampu mencerminkan  realitas yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Pancasila harus mampu  dijabarkan dalam kehidupan masyarakat  secara nyata ( kongkrit ) baik dalam kehidupan sehari- hari  maupun dalam  penyelenggaraan negara. Dengan demikian  pancasila  sebagai  ideologi terbuka  tidak bersifat  “utopis “yang hanya berisi ide-ide yang bersifat mengawang melainkan  suatu idelogi yang bersifat “ realistis “artinya  mampu dijabarkan  dalam segala aspek kehidupan.
Maka  Pancasila bukanlah merupakan suatu “ Doktrin “karena Pancasila  bersifat nyata  dan  Pancasila juga  bukan merupakan suatu ideologi yang “ Pragmatis”Karena Pancasila bersifat universal dan tetap dan senantiasa  mengikuti perkembangan zaman.                                                

Selasa, 07 Mei 2019

Brain Based Learing


Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak

A.    Definisi
Terdapat tiga pokok pembahasan dalam definisi pendidikan berbasis otak yaitu strategi, keterlibatan, dan prinsip. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa pendidikan berbasis otak adalah keterlibatan strategi yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang berasal dari satu pemahaman tentang otak. Pendidikan berbasis otak juga merupakan cara berfikir tentang pembelajaran. Pembelajaran ini membantu manusia untuk mempertimbangkan sifat dari otak untuk pengambilan keputusan.
B.     Tahap-Tahap.
Terdapat tujuh tahap garis besar perencanaan berbasis kemampuan otak antara lain :
a.      Tahap 1: Pra-Pemaparan
Fase ini memberikan sebuah ulasan kepada otak tentang pembelajaran baru sebelum benar-benar menggali lebih jauh. Pra-pemaparan membantu otak membangun peta konseptual yang lebih baik.
1.      Pajanglah ulasan tentang topik baru pada papan penggumuman: pemetaan pikiran sangat baik untuk melakukan ini.
2.      Ajarilah keterampilan belajar strategi-strategi memori
3.      Doronglah nutrisi otak yang baik, termasuk menyediakan air minum yang cukup banyak.
4.      Model peran dan latihan penanganan, penghargaan diri, dan ketrampilan-keterampilan kehidupan.
5.      Pertimbangkanlah siklus dan ritme waktu dalam sehari ketika merencanakan kegiatan-kegiatan.
6.      Temukanlah ketertarikan dan latar belakang siswa: mulailah dari tempat dimana mereka berada, pada dasar pengetahuan mereka, bukan dari tempat mereka yang hanya dugaan anda.
7.      Buatlah pembelajar menetapkan sasaran mereka sendiri dan diskusikan sasaran untuk setiap unit.
8.      Pajanglah berbagai sarana pendukung yang penuh warna, termasuk bentuk-bentuk penegasan yang positif.
9.      Rencanakanlah strategi “membangunkan” otak (misahnya gerakan lintas anggota badan atau peregangan relaksasi) pada setiap jam.
10.  Rencanakanlah kegiatan dimana para siswa dapat bergerak disetiap ruang kelas dan memilih kegiatan dari menu yang ditawarkan.
11.  Kondisikanlah ekspetasi yang positif dan biarkan siswa menyuarakan pikiran mereka juga.
12.  Bangunlah hubungan positif yang kuat dengan para pembelajar.
13.  Bacalah kondisi pembelajaran dan buatlah penyesuaian sembari anda melajutkan pelajaran

b.      Tahap 2: Persiapan
hal ini merupakan fase dalam menciptakan keingintahuan atau kesenangan
1.      Ciptakan pengalaman “kamu ada disana” berikan para pembelajar dunia nyata.
2.      Berikan konteks dari topik yang dipelajari.
3.      Bangkitkanlah dari diri para pembelajar nilai dan relevansi pribadi yang memungkinkan dari topik tersebut.
4.      Lakukanlah eksperimen, buatlah kunjungan lapangan, atau undanglah pembicara tamu yang terlibat secara profesional dengan topik tersebut.
5.      Berikanlah pengait, kejutan, atau hal-hal baru untuk melibatkan emosi pembelajar.

c.       Tahap 3 : Inisiasi dan Akusisi
Tahap ini memberikan pembenaman dan dibanjiri dengan muatan pembelajaran.
1.      Berikanlah pengalaman pembelajaran yang nyata (eksperimen, kunjungan lapangan, wawancara, pembelajaran langsung).
2.      Ciptakanlah kegiatan-kegiatan yang menggunakan mayoritas (jika bukan semuanya) dari inteligensia berganda.
3.      Berikanlah proyek kelompok yang meliputi pembangunan, penemuan, eksplorasi, atau perancangan.
4.      Kunjungilah bioskop,buatlah parodi, buatlah iklan, atau ciptakan surat kabar kelas.
5.      Berikanlah pilihan yang cukup banyak supaya para pembelajar punya kesempatan mengeksplorasi subjek.

d.      Tahap 4 : Elaborasi
Tahap ini merupakan pemrosesan untuk membuat kesan intelektual tentang pembelajara.
1.      Berikanlah tanya jawab terbuka tentang kegiatan sebelumnya.
2.      Ikatlah segala sesuatunya menjadi satu supaya dapat memunculkan pembelajaran lintas disiplin (misalnya : membaca cerita fiksi ilmiah tentang luar angkasa ketika sedang mempelajari sistem tata surya. Diskusikanlah bagaimana sastra berhubungan dengan sains).
3.      Buatlah agar para siswa merancang modus evaluasi atau rubrik untuk pembelajaran mereka sendiri.
4.      Buatlah agar para siswa mengeksplorasi topik tersebut melalui internet atau perpustakaan.
5.      Tontonlah video, slide, atau melihat pertunjukkan teater tentang topik ini.
6.      Stimulasikanlah diskusi kelompok kecil : bagikan kembali laporan kelompok kepada seluruh kelas.
7.      Ciptakanlah pemetaan pikiran individu atau kelompok untuk merenungkan materi baru.
8.      Adakanlah forum sekolah, debat, kontes essai, atau diskusi panel.
9.      Adakanlah periode tanya jawab.
10.  Buatlah agar para siswa melakukan pengajaran.

e.       Tahap 5 : Inkubasi dan Memasukkan Memori
Fase ini menekankan pentingnya waktu istirahat dan waktu untuk mengulang kembali. Otak belajar paling efektif dari waktu kewaktu,bukan langsung pada suatu saat.
1.      Sediakanlah waktu untuk perenungan tanpa bimbingan-waktu istirahat.
2.      Buatlah agar para pembelajar menyimpan jurnal pembelajaran.
3.      Biarkan para siswa berjalan berpasangan dan mendiskusikan topik tersebut.
4.      Lakukanlah peregangan dan latihan relaksasi.
5.      Sediakanlah area untuk mendengarkan musik.
6.      Mintalah para pembelajar untuk mendiskusikan pembelajaran baru dengan keluarga dan teman mereka.

f.       Tahap 6 : Verifikasi dan Pengecekan Keyakinan
Fase ini bukan hanya untuk kepentingan guru,para pembelajar juga perlu mengonfirmasikan pembelajaran mereka untuk diri mereka sendiri.
1.      Buatlah agar para pembelajar menyampaikan apa yang mereka pelajari kepada orang lain.
2.      Para siswa saling bertanya dan mengevaluasi satu sama lain.
3.      Para siswa menulis tentang apa yang sudah mereka pelajari.
4.      Para siswa mendomonstrasikan pembelajaran dengan subuah proyek (model kerja,video,dll)
5.      Para siswa menampilkan sebuah permainan peran,parodi,atau pertunjukan teaterkal.
6.      Kuis (verbal/tertulis)

g.      Tahap 7 : Perayaan dan Integrasi
Dalam fase perayaan sangat penting untuk melibatkan emosi. Buatlah fase ini mengasikan,ceria dan menyenangkan. Tahap ini menanamkan semua arti penting dari kecintaan terhadap belajar..
1.      Lakukanlah bersulang kelas (dengan sirup)
2.      Sediakanlah waktu berbagi
3.      Putar musik,gantunglah pita-pita,dan tiup terompet.
4.      Undanglah siswa kelas lain,orangtua,kepala sekolah atau tamu dari komunitas masuk ke kelas untuk melihat perayaan.
5.      Fasilitasi sebuah rancangan kelas dan buatlah pesta perayaan.
6.      Sertakan pembelajaran baru untuk pembelajar berikutnya. Jangan pernah memperkenalkan sesuatu,kemudian menghentikannya.







DAFTAR PUSTAKA
Jensen, Eric. 2011. Pembelajaran Berbasis Otak. Jakarta Barat : PT.Indeks.
Jensen, Eric. 2007. Brain-Based Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.